Program on Mathematics Education (IMPoME) Academic Year 2010-2011 Schoolarship

21 10 2009

100_5005

Dapatkan beasiswa (scholarship) S2 Internasional Pendidikan Matematika kerjasama University Utrecth Belanda , Unesa Surabaya dan Unsri Palembang dengan beasiswa Dikti (selama di Indonesia 1 tahun) dan beasiswa dari Neso (selama di Belanda 1 tahun). S2 Internasional Pendidikan Matematika mulai membuka pendaftaran untuk tahun kedua (tahun 2010). Untuk informasi lengkapnnya silahkan download:

1. BrosurIMPOME-english-2010-2011.pdf

2. FORM_Daftar_IMPoME2010.pdf

3. CV-IMPOME2010.pdf

Contact Person (sms):
ZulkardiUnsri(+628127106777), AgungLukitoUnesa(+628165428611) and Martha IP-PMRI (+628164202261)

Advertisements




PEMANFAATAN WEB PADA E-LEARNING UNTUK PENDIDIKAN JARAK JAUH

21 10 2009

Abstrak

Perkembangan Teknologi Informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e
seperti
e-commerce, e-government, e-education, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan yang lainnya yang berbasis elektronika.

Salah satu usaha yang ditempuh untuk meningkatkan kualitas pendidikan di perpengajaran tinggi adalah dengan pemanfaatan teknologi internet atau e-learning yang mendukung suatu sistem pendidikan jarak jauh. Tulisan ini membahas hal-hal yang mendukung dan hal-hal yang harus dipertimbangkan untuk membangun sistem pendidikan jarak jauh dengan menggunakan teknologi internet atau web yang berbasis Open Source dengan biaya rendah tanpa menurunkan kualitasnya





PRINSIP MENGAJAR MATEMATIKA

15 10 2009

Mengajar matematika yang efektif memerlukan pemahaman pengetahuan siswa dan kebutuhan untuk belajar sehingga menarik serta mendukung mereka untuk belajar yang baik

Para siswa belajar matematika melalui pengalaman yang difasilitasi guru. sehingga, siswa memahami matematika, agar mereka mampu menggunakannya untuk memecahkan masalah, dan mereka menjadi percaya diri, matematika dibentuk oleh semua pengajar yang berada di sekolah. Peningkatan pendidikan matematika untuk semua siswa memerlukan pembelajaran matematika yang efektif di semua kelas.

Guru matematika yang baik adalah selalu berusaha dengan kompleks, dan tidak ada hal yang mudah untuk membantu semua siswa belajar atau membantu semua guru menjadi efektif. Meskipun demikian, banyak diketahui mengajar matematika yang efektif, perlu pengetahuan dalam memandu aktivitas dan pertimbangan profesional. Untuk bisa efektif, guru harus mengetahui dan memahami matematika ketika mereka sedang mengajar dan bisa memberi gambaran/ilustrasi pada pengetahuan dengan fleksibel saat mereka tugas mengajar. Mereka perlu memahami dan merasa terikat dengan para siswa mereka, ketika belajar matematika bersikap manusiawi serta memiliki kemahiran dalam memilih dan menggunakan berbagai keterampilan pendidikan dan strategi penilaian ( Komisi pengawas Nasional Mengajar dan masa depan America’s 1996). Sebagai tambahan, pembelajaran efektif memerlukan cerminan/keteladanan dan usaha berkesinambungan untuk mencari peningkatan. Para guru harus mempunyai sumber daya dan peluang besar dan sering untuk meningkatkan serta menyegarkan pengetahuan mereka. Baca selengkapnya





Katak Pemakan Kapur

7 10 2009

Oleh: Dian Armanto

Penelitian sangat sederhana ini dilakukan oleh Frans Moerlands dan Annie Makkink di SD kelas 2 di Bandung pada 17 Februari 2003. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana aktivitas bermain dapat membantu menyelesaikan soal tentang bilangan yang “tidak diketahui” (dinyatakan dengan titik-titik) (Lihat Gambar 1).

katak kapur1

Gambar 1. Soal tentang bilangan yang

“tidak diketahui”.

katak kapur2

Gambar 2. Soal untuk mengetahui pemahaman

siswa, diberikan sebelum permainan.

Penelitian sederhana ini dimulai dengan memberikan satu bagian (sebelah kiri) dari soal-soal tentang menyelesaikan kalimat matematika sederhana (lihat Gambar 2) kepada siswa untuk dikerjakan. Siswa mengerjakannya secara mandiri dengan memberikan kesempatan waktu selama 10 menit. (Denny).(download full artikel dian armanto.pdf)





Matematika Menjadi Pelajaran Menyenangkan

7 10 2009

Pelajaran matematika selama ini menjadi momok bagi banyak siswa. Mulai siswa sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah tingkat atas (SMA) bahkan perguruan tinggi beranggapan matematikan adalah salah satu pelajaran yang menakutkan dan menjengkelkan. Namun sesulit bagaimanapun pelajaran tersebut harus dipelajari sebagai suatu proses pembelajaran.

Mengajarkan pelajaran matematika pada siswa tidak cukup hanya dengan memberikan hafalan rumus-rumus, karena metode seperti itu akan menghilangkan kesempatan siswa untuk berlatih berpikir.

Ketua Program Studi Pendidikan Dasar Pasca Sarjana Universitas Negeri Medan (Unimed), Prof Dian Armanto mengatakan, matematika jika ditekuni dengan serius, tidak akan ada yang sulit. Terlebih lagi bila menguasai rumus-rumus dan mengulangnya kembali di rumah.
“Untuk menyukai matematika itu, bisa dilakukan dengan bantuan media gambar atau cerita hingga pelajaran itu menyenangkan dan siswa menjadi tertarik,” ujar Prof Dian pada pada konferensi pendidikan matematika tingkat nasional yang digelar di Unimed baru-baru ini.

Dijelaskannya, selama ini proses pembelajaran matematika masih cenderung kepada konsep tradisional, yakni hanya menjejalkan rumus-rumus dan hafalan saja kepada siswa. Tanpa memberi masukan bagaimana siswa menyelesaikannya dengan baik. Padahal tujuan pendidikan, lanjut Dian, pada dasarnya bukanlah mencapai hasil apa yang dipelajari, namun adalah menciptakan manusia-manusia yang mampu memecahkan permasalah-permasalahan yang dihadapinya. Selain itu pendidikan juga diharapkan mampu menciptakan insan-insan yang kreatif dan inovatif hingga mampu menciptakan hal-hal baru demi kemaslahatan umat. Belajar matematika berkaitan erat dengan aktivitas dan proses belajar berpikir. Kedua proses ini akan terjadi apabila seorang individu berhadapan dengan suatu situasi atau masalah yang mendesak dan menantang serta dapat memicunya untuk berpikir agar diperoleh kejelasan dan solusi atau jawaban terhadap masalah yang dimunculkan dalam situasi yang dihadapinya.

Sementara itu Staf pengajar Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Y Marpaung mengatakan, meningkatkan mutu pendidikan terutama pada mata pelajaran matematika kepada anak didik dapat dilakukan dengan menerapkan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Menurutnya PMRI merupakan suatu pengembangan teori pembelajaran dan pendidikan matematika dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Sejak PMRI dimulai pada 2001 lalu, perubahan-perubahan dalam proses pembelajaran dan cara siswa belajar serta kemampuannya dalam menyelesaikan masalah terus menunjukkan kemajuan. “Dengan PMRI ini matematika bukan lagi sebagai mata pelajaran yang menakutkan bagi siswa, namun sudah menjadi pelajaran yang menyenangkan karena proses pembelajaran tidakl agi bersifat satu arah,” kata Y Marpaung.

Dijelaskannya, ide PMRI itu bermula dari keprihatinan sekelompok dosen di perguruan tinggi, antara lain tim basic science ITB Bandung, beberapa dosen pendidikan matematika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tentang mutu pendidikan matematika di Indonesia. Tim sangat menyadari tidaklah mudah mengubah paradigma mengajar menjadi paradigma belajar. Khususnya untuk mata pelajaran matematika yang objeknya abstrak dan tidak mudah dipahami.

Pada konfrensi pendidikan matematika tingkat nasional yang digelar Unimed dengan menghadirkan 166 narasumber dalam negeri maupun luar negeri akhir Juli lalu diharapkan ide-ide baru tersebut dapat dihasilkan rumusan-rumusan atau berbagai ide tentang bagaimana pembelajaran matematika yang menyenangkan, hingga siswa banyak mendapat pemahaman matematika yang lebih baik lagi. (Khair)

Sumber : http://www.harian-global.com/index.php?





Matematika Bukan Momok

7 10 2009

(dikutip dari Sumut Pos 12:59 | Tuesday, 28 July 2009, Denny)

Dewasa ini sebagian siswa masih menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang sulit sehingga mereka menganggap bahwa pelajaran ini sebagai momok. Padahal matematika bukanlah mata pelajaran yang menakutkan.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Program Studi Pendidikan Dasar Pasca Sarjana Universitas Negeri Medan (Unimed), Prof Dian Armanto, kepada wartawan, kemarin (27/7). Dian mengatakan, jika matematika ditekuni dengan serius tidak akan ada yang sulit apabila menguasai rumus dan mengulang pelajaran di rumah.

Ia menyebut, tujuan pendidikan pada dasarnya bukanlah mencapai hasil apa yang dipelajari selama ini. Namun untuk menciptakan manusia yang mampu memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi.

Selain itu, kata Dian, pendidikan juga diharapkan mampu menciptakan insan-insan yang kreatif dan inovatif hingga mampu menciptakan hal-hal baru demi kemaslahatan umat. “Jadi intinya tanpa pendidikan tidak akan ada perubahan yang dapat dicapai didunia ini. Manusia akan statis dan hanya bersifat menerima apa yang ada pada dirinya sekarang ini,” katanya.

Selama ini, Dian mengakui proses pembelajaran matematika masih cenderung kepada konsep tradisional yakni hanya menjejalkan rumus dan hafalan kepada siswa. Harusnya diberikan masukan bagaimana siswa menyelesaikan suatu permasalahan dengan baik. “Misalnya saja proses pembelajaran matematika dapat dilakukan dengan bantuan media gambar dan cerita. Pelajaran itu menjadi menyenangkan sehingga siswa menjadi tertarik,” jelasnya.

Ia menambahkan dalam mencari ide-ide cemerlang menciptakan proses pembelajaran matematika yang menyenangkan, Unimed telah mengelar konfrensi pendidikan matematika tingkat nasional dengan menghadirkan 166 narasumber dalam negeri maupun luar negeri, pada 23-25 Juli.

“Dengan ide-ide baru tersebut dapat dihasilkan rumusan-rumusan atau berbagai ide tentang bagaimana pembelajaran matematika yang menyenangkan. Sehingga siswa banyak mendapat pemahaman matematika yang lebih baik lagi,” jelas Dian yang juga ketua panitia konfrensi.

“Dewasa ini proses pembelajaran matematika sudah cenderung membaik, buktinya dalam ujian nasional (UN) 2009, justru nilai yang tertinggi diraih pada siswa adalah matematika,” katanya.(Saz)





Konferensi Nasional Pendidikan Matematika III

6 10 2009

unimed1

Konferensi Nasional Pendidikan Matematika (KNPM) III telah digelar di Sumatera Utara dengan penyelenggara Universitas Negeri Medan pada tanggal 23-25 juli 2009 dengan ketua penyelenggara Prof. Dian Armanto, MSc, PhD. konferensi ini bertujuan untuk menyediakan sebuah forum peneliti, guru, pendidik, dosen, mahasiswa dan siswa untuk berbagi ide, berkomunikasi dan berdiskusi tentang penemuan baru pembelajaran matematika di berbagai tempat di Indonesia dan dunia. Forum ini juga bertujuan meningkatkan eksplorasi terhadap pertukaran ide matematikawan dan untuk menambah aktivitas ilmiah di wilayah Sumatera Utara, singkatnya mencari solusi-solusi baru pada pembelajaran Matematika di Indonesia.

Konferensi ini diisi dengan beberapa kegiatan seperti seminar internasional, pameran pendidikan dan perlombaan. Dalam mengikuti seminar internasional, konferensi ini menghadirkan beberapa pembicara dari dalam dan luar negeri antara lain Gerard H. Van Den Hoven asal Belanda, Dougles Butler asal Inggris, Max Stephen asal Australia, Cahh ui Hock asal Malaysia, Munirah Ghazali asal Malaysia Prof. Dr. Zulkardi, MSc, MIkom (Universitas Sriwijaya, Palembang) Prof. Soejadi (UNESA Surabaya) Dr. Yansen Marpaung (Universitas Sanata Dharma, Yogya).

Harapan dari kegiatan ini dapat meningkatkan perbaikan pendidikan dan pengembangan wawasan pendidikan matematika di Indonesia, secara khusus pendidikan matematika di Sumatera Utara.(Denny)