Katak Pemakan Kapur

7 10 2009

Oleh: Dian Armanto

Penelitian sangat sederhana ini dilakukan oleh Frans Moerlands dan Annie Makkink di SD kelas 2 di Bandung pada 17 Februari 2003. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana aktivitas bermain dapat membantu menyelesaikan soal tentang bilangan yang “tidak diketahui” (dinyatakan dengan titik-titik) (Lihat Gambar 1).

katak kapur1

Gambar 1. Soal tentang bilangan yang

“tidak diketahui”.

katak kapur2

Gambar 2. Soal untuk mengetahui pemahaman

siswa, diberikan sebelum permainan.

Penelitian sederhana ini dimulai dengan memberikan satu bagian (sebelah kiri) dari soal-soal tentang menyelesaikan kalimat matematika sederhana (lihat Gambar 2) kepada siswa untuk dikerjakan. Siswa mengerjakannya secara mandiri dengan memberikan kesempatan waktu selama 10 menit. (Denny).(download full artikel dian armanto.pdf)





Matematika Menjadi Pelajaran Menyenangkan

7 10 2009

Pelajaran matematika selama ini menjadi momok bagi banyak siswa. Mulai siswa sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah tingkat atas (SMA) bahkan perguruan tinggi beranggapan matematikan adalah salah satu pelajaran yang menakutkan dan menjengkelkan. Namun sesulit bagaimanapun pelajaran tersebut harus dipelajari sebagai suatu proses pembelajaran.

Mengajarkan pelajaran matematika pada siswa tidak cukup hanya dengan memberikan hafalan rumus-rumus, karena metode seperti itu akan menghilangkan kesempatan siswa untuk berlatih berpikir.

Ketua Program Studi Pendidikan Dasar Pasca Sarjana Universitas Negeri Medan (Unimed), Prof Dian Armanto mengatakan, matematika jika ditekuni dengan serius, tidak akan ada yang sulit. Terlebih lagi bila menguasai rumus-rumus dan mengulangnya kembali di rumah.
“Untuk menyukai matematika itu, bisa dilakukan dengan bantuan media gambar atau cerita hingga pelajaran itu menyenangkan dan siswa menjadi tertarik,” ujar Prof Dian pada pada konferensi pendidikan matematika tingkat nasional yang digelar di Unimed baru-baru ini.

Dijelaskannya, selama ini proses pembelajaran matematika masih cenderung kepada konsep tradisional, yakni hanya menjejalkan rumus-rumus dan hafalan saja kepada siswa. Tanpa memberi masukan bagaimana siswa menyelesaikannya dengan baik. Padahal tujuan pendidikan, lanjut Dian, pada dasarnya bukanlah mencapai hasil apa yang dipelajari, namun adalah menciptakan manusia-manusia yang mampu memecahkan permasalah-permasalahan yang dihadapinya. Selain itu pendidikan juga diharapkan mampu menciptakan insan-insan yang kreatif dan inovatif hingga mampu menciptakan hal-hal baru demi kemaslahatan umat. Belajar matematika berkaitan erat dengan aktivitas dan proses belajar berpikir. Kedua proses ini akan terjadi apabila seorang individu berhadapan dengan suatu situasi atau masalah yang mendesak dan menantang serta dapat memicunya untuk berpikir agar diperoleh kejelasan dan solusi atau jawaban terhadap masalah yang dimunculkan dalam situasi yang dihadapinya.

Sementara itu Staf pengajar Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Y Marpaung mengatakan, meningkatkan mutu pendidikan terutama pada mata pelajaran matematika kepada anak didik dapat dilakukan dengan menerapkan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Menurutnya PMRI merupakan suatu pengembangan teori pembelajaran dan pendidikan matematika dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Sejak PMRI dimulai pada 2001 lalu, perubahan-perubahan dalam proses pembelajaran dan cara siswa belajar serta kemampuannya dalam menyelesaikan masalah terus menunjukkan kemajuan. “Dengan PMRI ini matematika bukan lagi sebagai mata pelajaran yang menakutkan bagi siswa, namun sudah menjadi pelajaran yang menyenangkan karena proses pembelajaran tidakl agi bersifat satu arah,” kata Y Marpaung.

Dijelaskannya, ide PMRI itu bermula dari keprihatinan sekelompok dosen di perguruan tinggi, antara lain tim basic science ITB Bandung, beberapa dosen pendidikan matematika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tentang mutu pendidikan matematika di Indonesia. Tim sangat menyadari tidaklah mudah mengubah paradigma mengajar menjadi paradigma belajar. Khususnya untuk mata pelajaran matematika yang objeknya abstrak dan tidak mudah dipahami.

Pada konfrensi pendidikan matematika tingkat nasional yang digelar Unimed dengan menghadirkan 166 narasumber dalam negeri maupun luar negeri akhir Juli lalu diharapkan ide-ide baru tersebut dapat dihasilkan rumusan-rumusan atau berbagai ide tentang bagaimana pembelajaran matematika yang menyenangkan, hingga siswa banyak mendapat pemahaman matematika yang lebih baik lagi. (Khair)

Sumber : http://www.harian-global.com/index.php?





Matematika Bukan Momok

7 10 2009

(dikutip dari Sumut Pos 12:59 | Tuesday, 28 July 2009, Denny)

Dewasa ini sebagian siswa masih menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang sulit sehingga mereka menganggap bahwa pelajaran ini sebagai momok. Padahal matematika bukanlah mata pelajaran yang menakutkan.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Program Studi Pendidikan Dasar Pasca Sarjana Universitas Negeri Medan (Unimed), Prof Dian Armanto, kepada wartawan, kemarin (27/7). Dian mengatakan, jika matematika ditekuni dengan serius tidak akan ada yang sulit apabila menguasai rumus dan mengulang pelajaran di rumah.

Ia menyebut, tujuan pendidikan pada dasarnya bukanlah mencapai hasil apa yang dipelajari selama ini. Namun untuk menciptakan manusia yang mampu memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi.

Selain itu, kata Dian, pendidikan juga diharapkan mampu menciptakan insan-insan yang kreatif dan inovatif hingga mampu menciptakan hal-hal baru demi kemaslahatan umat. “Jadi intinya tanpa pendidikan tidak akan ada perubahan yang dapat dicapai didunia ini. Manusia akan statis dan hanya bersifat menerima apa yang ada pada dirinya sekarang ini,” katanya.

Selama ini, Dian mengakui proses pembelajaran matematika masih cenderung kepada konsep tradisional yakni hanya menjejalkan rumus dan hafalan kepada siswa. Harusnya diberikan masukan bagaimana siswa menyelesaikan suatu permasalahan dengan baik. “Misalnya saja proses pembelajaran matematika dapat dilakukan dengan bantuan media gambar dan cerita. Pelajaran itu menjadi menyenangkan sehingga siswa menjadi tertarik,” jelasnya.

Ia menambahkan dalam mencari ide-ide cemerlang menciptakan proses pembelajaran matematika yang menyenangkan, Unimed telah mengelar konfrensi pendidikan matematika tingkat nasional dengan menghadirkan 166 narasumber dalam negeri maupun luar negeri, pada 23-25 Juli.

“Dengan ide-ide baru tersebut dapat dihasilkan rumusan-rumusan atau berbagai ide tentang bagaimana pembelajaran matematika yang menyenangkan. Sehingga siswa banyak mendapat pemahaman matematika yang lebih baik lagi,” jelas Dian yang juga ketua panitia konfrensi.

“Dewasa ini proses pembelajaran matematika sudah cenderung membaik, buktinya dalam ujian nasional (UN) 2009, justru nilai yang tertinggi diraih pada siswa adalah matematika,” katanya.(Saz)








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.